Sunday, February 8, 2009

LISTENING SKILL

8 CARA BELAJAR MENDENGARKAN
Anak umumnya hanya mau mendengar komunikasi yang menyenangkan. Karena itu, lihat situasi dan kondisi saat berkomunikasi dengan anak. Termasuk memerintah, menegur atau melarang anak.

Si kecil cuek? Jangan bingung dulu sebab seperti dipaparkan Sri Razwanti Suciyati, Psi., anak usia ini sudah mulai memahami perintah. Cuma karena sifat egosentris yang dimiliki, anak biasanya hanya mau mendengarkan perintah/pembicaraan menyenangkan saja. "Kalau perintah itu tidak membuat dirinya senang, maka dia akan bereaksi negatif. Salah satunya dengan sikap cuek."

Tak heran ketika orang tua berkata, "Adek beresin mainan ya," atau "Eh Adek kenapa tadi kamu enggak cium tangan kakek?", anak langsung cuek seolah tak mendengar kata-kata orang tuanya. Lain halnya jika orang tua berkata, "Eh, Dek jajan yuk!", atau "Sekarang di teve ada Kapten Tsubatsa lo.", bisa dipastikan si prasekolah langsung memberikan respons positif.

Itulah mengapa, jangan sekali-kali menganggap si prasekolah yang cuek tidak mendengar apa pun yang dikatakan padanya. Karena di balik sikap cueknya, sebenarnya anak menangkap isi pembicaraan tersebut. Sikap pura-pura tidak mendengar seperti ini bukan cuma di rumah, tapi juga di "sekolah". "Banyak anak yang di kelasnya seolah tidak memperhatikan penjelasan sang guru. Namun begitu waktu "sekolah" usai, ia bisa menceritakan panjang lebar tentang materi pelajaran kepada orang tuanya di rumah.

Sikap cuek si kecil tidak lain merupakan bentuk penolakan terhadap isi pesan. Saat orang tua menegur si kecil agar berhenti nonton teve, anak menanggapinya dengan cuek karena ia tidak mau aktivitasnya dihentikan. Demikian pula, misalnya, ketika orang tua menegur anak agar tidak main-main dengan kompor, ia sebenarnya tidak mau dilarang main-main kompor.

Menurut psikolog yang akrab disapa Ade ini, sikap cuek turut dipengaruhi oleh karakter anak. Anak dengan karakter pasif dan pemalu, biasanya memang lebih cuek daripada anak yang aktif dan terbuka. Begitu juga anak yang bersikap cuek karena belum mengenal orang yang mengajaknya bicara. Itulah sebabnya, sebelum bertanya atau memberi perintah, baik orang tua maupun siapa pun, hendaknya mengenal anak dengan baik. Disamping itu, anak yang pasif perlu dipupuk kepercayaan dirinya agar tidak segan berkomunikasi dengan orang yang belum dikenalnya.

KIAT MENGATASINYA

Psikolog dari Essa Consulting Group menawarkan beberapa kiat untuk mencegah maupun mengatasi sikap cuek anak saat berkomunikasi:

1. Tunggu Aktivitasnya Selesai

Saat anak terlihat sibuk, tunggulah hingga aktivitasnya selesai. Sebab anak sulit mengalihkan perhatian ketika asyik dengan kegiatannya. Saat anak asyik nonton tayangan kesukaannya, tunggulah berkomunikasi hingga jeda iklan. Akan sia-sia jadinya jika orang tua bicara selagi anak sedang sibuk main/nonton. Kecuali jika pembicaraan itu memang benar-benar penting. Jika ini yang terjadi, tidak ada jalan lain, orang tua mesti memaksa anak menghentikan aktivitasnya.

Atau supaya si kecil tidak terganggu aktivitasnya, orang tua boleh saja memberi peringatan beberapa puluh menit sebelumnya. "Nanti sepuluh menit lagi kamu mandi ya." Dengan cara itu, anak memiliki persiapan ketika harus menghentikan aktivitasnya.

2. Bicara Dekat Anak

Perhatian anak akan mudah terfokus saat orang tua berbicara langsung. Karena itu, baik ketika memberi perintah, berdialog, atau menanyakan sesuatu, usahakan berbicara tidak jauh secara fisik dari anak. Anak pun akan mudah menangkap pesan yang disampaikan orang tua.

Sebaliknya, anak akan cenderung tidak memperhatikan ketika seseorang berbicara jauh secara fisik dari dirinya. Orang tua tidak bisa begitu berteriak-teriak dari dapur, sedangkan anaknya sedang asyik bermain di halaman rumah. "Anak tentu akan sulit menangkap pesan orang tua hingga bersikap cuek." Kecuali dalam situasi dan kondisi tertentu, orang tua boleh saja berkomunikasi dari kejauhan. Asal kejauhannya tidak menghambat pesan tersebut sampai kepada si kecil. Akan tetapi orang tua mesti bekerja keras agar pesan tersebut bisa ditangkap anak.

3. Tatap Mata

Tatapan mata menandakan orang tua bersungguh-sungguh terhadap apa yang diucapkan. Apalagi bila saat itu orang tua sedang mencoba menegur sebuah perilaku buruk si kecil. Cara berkomunikasi seperti itu menandakan orang tua tidak main-main dengan yang diucapkan. Lain halnya jika orang tua menegur namun perhatiannya entah ke mana. Kalau ini yang terjadi, jangan harap si kecil tak bersikap cuek.

4. Kontak Tubuh

Dalam situasi dan kondisi tertentu, kontak tubuh anak juga perlu. Jenis kontak tubuh ini disesuaikan dengan tujuan komunikasi orang tua. Jika anak terlihat tidak memperhatikan, orang tua bisa membalikkan tubuh sekaligus memegang badan si kecil agar dia memperhatikan pembicaraan. Sikap itu menunjukkan keseriusan orang tua dalam berkomunikasi. Atau saat ingin mengajarkan nilai-nilai, orang tua bisa mendekap anak seraya mengembangkan senyum terlebih dahulu. Setelah itu, barulah orang tua bisa memasukkan pesan-pesan moral kepada anak. Kontak tubuh membuat anak merasa terlindungi sekaligus dicintai.

5. Bicara Tegas

Sikap tegas berbeda dengan sikap galak. Galak cenderung mengobral ancaman dengan nada bicara tinggi. Sementara sikap tegas hanya menuturkan apa yang tidak boleh dilakukan dibarengi nada bicara yang datar namun jelas, tidak terlalu tinggi dan tidak juga terlalu rendah. Adapun ekspresi orang galak mirip dengan orang yang sedang marah, sedangkan wajah yang tegas cenderung tanpa ekspresi. Sikap tegas membuat anak segan dan tak tergerak untuk melanggar aturan. Berbeda dengan sikap galak yang hanya akan membuat anak takut namun tidak konsisten perilakunya. Di dekat orang tua bisa bertingkah manis, tetapi jika di depan orang lain bisa bersikap sebaliknya.

Ingat juga, jika anak sering digalaki, dia akan kebal saat dimarahi orang tua. Ade punya kasus orang tua galak yang kesulitan mendisiplinkan anak. Saking sering digalaki, anaknya cuek saja saat dimarahi. Padahal orang tua sudah berteriak-teriak marah. Barulah ketika orang tua mengeluarkan suara tertingginya, si anak menghentikan aktivitasnya dan menoleh pada orang tua.

Jika hendak menegur anak yang kelamaan main game, ibu yang tegas cukup berkata, "Adek, ayo naik tempat tidur." Sementara yang galak akan mengatakan hal yang sama dalam ucapan, "Dari tadi kamu nonton teve terus. Pokoknya, kamu enggak boleh nonton teve lagi!" Sikap tegas juga mesti dilakukan secara bertahap. Jika cara satu dirasa tidak mempan, orang tua bisa mencari jalan lain. Misalnya, jika sudah tiga kali diingatkan agar mematikan video game-nya, orang tua bisa mematikan video game tersebut lalu menyuruh anak masuk ke kamarnya untuk tidur.

Ade juga menegaskan, terlalu lembut juga tidak baik buat perkembangan anak. Sebab sikap ini umumnya sulit membuat anak taat aturan. Karena saking sayangnya, orang tua sering tidak bisa bersikap tegas kepada anak. Akibatnya, orang tua tidak tahu mana hal yang benar dan mana pula yang salah. Sangat mungkin anak akan berontak jika suatu saat dia ditegur karena melakukan kesalahan.

6. Minta Tolong

Jika hendak minta bantuan anak, yang pertama kali harus diucapkan adalah "minta tolong". Memang hal itu tidak serta merta mengikis sikap cuek-nya. Akan tetapi minimal orang tua telah mengajarkan anak bersikap santun. Anak pun merasa tidak dipaksa saat diperintah atau dimintai bantuan.

7. Kerjakan Bersama

Patut diingat, anak lebih mengingat contoh nyata ketimbang kata-kata. Bahkan meski tanpa disuruh, anak pun akan semangat menjalankan perintah asalkan ia melihat teman atau orang lain menjalani perintah yang sama. Jadi, usahakan memberi contoh terlebih dulu sebelum memberi perintah. Saat melihat mainan anak berantakan, contohnya, orang tua sebaiknya tidak berkata, "Adek ayo beresin mainan. Kalau enggak, Ibu enggak bakalan beliin mainan lagi lo." Akan lebih ampuh bila mengatakan, "Eh mainannya kita beresin sama-sama yuk. Ibu beresin mobilnya, kamu beresin motor-motorannya ya."

Dengan perintah/permintaan seperti itu, Ade menjamin, anak yang tadinya cuek bisa mendadak tergerak membantu ibunya membereskan mainan. Ingat, anak usia ini masih memerlukan bantuan orang tua untuk memupuk kemandiriannya. Kendati dengan berjalannya waktu, bantuan tersebut sedikit demi sedikit mesti dilepaskan, hingga akhirnya si anak bisa mandiri.

Selain itu, cara ini pun secara tidak langsung akan mengajarkan pada anak bagaimana menjalin kerja sama. Saat mengerjakan sesuatu, anak dituntut bisa bahu-membahu dengan orang lain. Dengan demikian pekerjaan akan cepat selesai, selain sikap ego yang dimilikinya bisa diminimalkan. "Enggak lucu kan melihat orang lain sibuk bekerja sementara anak ongkang-ongkang kaki."

8. Berikan Teladan

Teladan sangat bermanfaat buat si kecil. Dengan contoh konkret dari sosok idola, anak mudah menyerap sebuah perilaku. Ketika orang tua hendak mengajarkan pentingnya mendengarkan, mulailah dari memberi perhatian ketika si kecil berbicara. Cara itu akan mengajarkan si kecil bahwa memperhatikan orang yang tengah berbicara padanya merupakan bagian dari sopan santun. Jika tidak memungkinkan karena sedang sibuk, orang tua setidaknya memberikan penjelasan/alasan. Contohnya, "Adek ceritanya nanti ya, Mama sedang sibuk masak nih."

(tabloid-nakita)

Friday, February 6, 2009

CREATIVE,RELIGIOUS AND ACTIVE






Assalamu'alaikum wr. wb
Pagi itu........,angin dingin terasa lebih menyapa daripada biasanya,namun pagi itu pula tepatnya tanggal 31 Januari 2009, KB/TKIT LEBAH MADU mengadakan pentas seni yang diselenggarakan di BSD Plaza. Alhamdulillah,acara dapat dimulai jam 09.00 WIB. Acara pun diawali dengan bacaan surat pendek beserta artinya yang dilantunkan dengan lugas oleh ananda Asyam. Subhanallah...,suatu kebanggaan besar bagi kami ketika melihat ananda-ananda kecil kami yang sangat percaya diri untuk naik ke atas panggung dan mempersembahkan kreatifitas seninya. Adapaun kreatifitas seni yang mereka pertunjukkan antara lain adalah puitisasi,pembacaan surat pendek beserta artinya (KB),menari (tari selayang pandang,kreasi senam,bali,bintang,dll),bermain angklung hingga bernyanyi "small home lizard" yang juga diiringi oleh angklung. Wah....suasana pentas menjadi meriah,bahkan lebih meriah,ketika Bu Husnul yang berperan sebagai pembawa acara dapat menghidupkan suasana pentas dengan cara mengajak ayah-bunda untuk berperan serta dalam pentas senin tersebut. Tak lupa,kami dari Lebah Madu sangat berterimakasih sekali atas dukungan para ayah dan bunda dari ananda-ananda KB/TKIT LEBAH MADU sehingga kegiatan pentas seni ini dapat berjalan lancar meski kami sadari bahwa masih terdapat banyak kekurangan.Selanjutnya,semoga saja ikatan antara kami (orangtua murid dan pihak sekolah) akan selalu terjalin kuat.amin.

Sunday, January 25, 2009

SANG PEMENANG DI HATI KAMI










Sabtu,24 Januari 2009
Pagi itu,sekolah KB/TKIT LEBAH MADU terlihat sedikit lebih ramai dengan kedatangan beberapa siswanya yang akan mengikuti lomba di TKIT Auliya. Mereka terlihat semangat dan percaya diri. Subhanallah,bahkan orangtua dari siswa yang akan mengikuti lomba sangat mendukung ananda-ananda tersayangnya dengan menyediakan waktu luang untuk mengantarkan mereka ke ajang perlombaan. Disadari atau tidak,hal itu adalah hal terbesar yang dapat memotivasi mereka.
Akhirnya, setelah beberapa peserta dan orangtuanya berkumpul,kami pun langsung menuju TKIT Auliya secara beriringan. Sesampainya disana,kami pun langsung melakukan registrasi ulang peserta lomba. KB/TKIT LEBAH MADU mengikuti 7 jenis lomba antara lain: lomba mewarnai Kelompok Bermain,lomba mewarnai TK A dan TK B, lomba hafalan doa harian dan surat pendek TK A serta TK B, dan satu lagi lomba adzan TK B.
Keadaan disana cukup ramai,kami pun diminta oleh panitia untuk segera berkumpul di aula. Seperti biasa....waktu Indonesia,ternyata pembukaan lomba baru dimulai hampir jam setengah 10 pagi, padahal sebelumnya kami konfirm lewat telepon ke panitia bahwa acara akan di mulai jam 8.30 WIB. Alhamdulillah...tidak lama berselang,lomba pun dimulai. Peserta pun tersebar ke berbagai tempat. Keberadaan orangtua siswa yang mendampingi ananda banyak membantu kami. Rasa percaya dan kekeluargaan serta kerjasama antara guru dan orangtua siswa KB/TKIT LEBAH MADU sangat terlihat sekali disana. Walaupun tempat masing-masinglomba agak berjauhan,namun sekali lagi alhamdulillah semua terpantau.
Sekitar jam 11.30 WIB, semua lomba telah selesai. Pengumuman pemenang akan segera dilakukan. Perlu untuk diketahui bahwa tujuan utama KB/TKIT LEBAH MADU mengikuti lomba bukanlah untuk menjadi juara namun semata-mata kami hanyalah ingin agar ananda-ananda tersayang kami lebih percaya diri dan mempunyai jiwa kompetitif yang kelak harus mereka punyai untuk menghadapi lingkungannya nanti. Selain itu,keikutsertaan lomba ini juga merupakan aplikasi dari proses belajar mengajar yang telah mereka lakukan selama ini.
Saat menunggu pengumuman,panitia membuat acara yang menarik (cat: pembagian doorprize) untuk anak-anak yang mau maju ke depan dan bernyanyi. Hmmm....coba tebak,tiba-tiba ada anak perempuan kecil berkerudung yang lari kencang dari arah barisan belakang (cat: kalau tunjuk tangan tidak akan terlihat) dan Hop....langsung naik ke atas panggung tanpa melalui tangga. Wah..semangat sekali,dan ternyata itu adalah Rahil salah satu siswa LEBAH MADU kelas Ababil. Rasa percaya dirinya sangat terlihat disana,bahkan saat panitia memintanya bernyanyi,dia pun langsung bernyanyi. Subhanallah....dia pun mendapatkan hadiah door prize.
Tidak hanya Rahil,pada saat pembagian doorprize kembali,tak jauh berbeda, tiba-tiba seperti anak panah yang melesat dengan cepat,anak perempuan kecil mungil dan berkerudung lari dari barisan belakang pula untuk cepat sampai ke depan panggung. Tidak lain ,dia adalah Nada,siswa LEBAH MADU juga. (cat:panita lomba membagikan hadiah untuk anak yang sampai ke panggung terlebih dahulu). Nada ini merupakan siswa LEBAH MADU kelas Salwa yang bisa dikatakan agak pendiam jika di sekolah. Subhanallah...ternyata di sana,aplikasinya betul-betul nyata, Nada mau bernyanyi dengan semangat. Mungkin,jika pada saat itu,semua peserta lomba dari KB/TKIT LEBAH MADU masih lengkap,bisa jadi hampir semuanya mendapatkan doorprize. Ya....sesuai motto LEBAH MADU yaitu membuat anak yang aktif,kreatif dan relijius. :-) Insyaallah.......
Pengumuman pun tiba. Alhamdulillah LEBAH MADU mendapat 5 piala pada lomba kali ini:
1. Juara II mewarnai TK A (Valerie Citra W.)
2. Juara III hafalan surat pendek TK B (Alika Putri A.)
3. Juara Harapan III Adzan (Bangga Noeris P.)
4. Juara Harapan I Hafalan doa harian TK A (Sofie M. Qori)
5. Juara Harapan II Mewarnai kaligrafi TK B (Nahda Zahira)
Akhir kata,apapun hasilnya,kami sangat bangga dengan semua siswa LEBAH MADU yang ikut perlombaan ini. Mereka selalu menjadi pemenang di hati kami. Kebanggaan mereka akan kemenangan temannya telihat pada mata mungil mereka saat pengumuman. Kebesaran hati dan kesabaran mereka yang tidak menjadi pemenang justru makin membuat kami sangat bangga. Kami yakin itu adalah pijakan dasar yang akan membuat mereka kelak menjadi orang-orang yang bijaksana. amin.
TETAPLAH SEMANGAT, ananda-ananda kami tersayang..........

Friday, December 5, 2008

MONTESSORI PLAY AND LEARN

Montessori Play and Learn
A parents Guide to Purposeful Play from Two to Six
Written by Lesley Britton



Permainan ini dibagi menjadi 7 kategori, sesuai 7 area dari metode Montesorri. Angka di dalam kurung adalah acuan umur yang cocok bagi aktivitas tersebut.

Kategori Language and Reading

The Silence Game (2 – 6)
Kita dan anak berusaha diam, sediam-diamnya (jangan paksakan anak untuk diam, dia harus menerima bahwa ini adalah permainan dan bukan suruhan untuk diam) lalu coba dengarkan suara-suara yang ada. Setelah satu menit tanya (dengan berbisik) apa saja yang dia dengar.
Game ini melatih self control dan observation skill.

The Object Game (3-4)
Sediakan sekelompok benda yang dimulai dengan bunyi yang sama. Contoh : bola, buku, balon, boneka. Tunjuk pada benda-benda tersebut satu per satu sambil mengatakannya, pastikan anak menangkap mereka dimulai dengan bunyi b. Perkenalkan kelompok kedua, contoh : pen, pensil, penggaris, penghapus dengan cara yang sama. Lalu suruh dia ambil satu barang yang dimulai dengan b, lalu dengan p dst. Variasi : ambil pensil dan tanya: apakah ini bensil?
Game ini melatih mengenal begining sound.

Shapes (4-5)
Gunting kertas karton (atau bekas kartu yang cukup tebal) menjadi berbagai bentuk (lingkaran, kotak, segitiga dll.) Perkenalkan bentuk, dan suruh anak menjiplak bentuk itu ke atas kertas putih (suruh anak meletakan karton berbentuk di atas kertas putih dan menelusuri tepinya dengan pensil.
Game ini melatih tangan mengontrol alat tulis

Words around the House (5-6)
Buat label untuk benda-benda di rumah dengan karton putih dan spidol (label jangan terlalu kecil) seperti : kursi, sofa, lemari es, jendela, meja dll. Suruh anak berkeliling rumah untuk meletakkan label itu pada masing-masing benda.
Game ini melatih membaca

Kategori Sensory Development

Mystery Bag (2-3)
Masukan benda ke dalam kantong (sarung bantal cukup baik) dan minta anak untuk menebak benda apa itu dengan memasukkan tangannya ke dalam kantong (tanpa boleh melihat ke dalam kantong)
Game ini melatih indera peraba.

Sorting by Sound (3-4)
Kumpulkan 10 botol bekas vitamin (atau kosmetik dll) yang sama persis.
Cari 5 jenis benda kecil (contoh : paper klip, kerang, kelereng, buletan kapas, potongan kertas. 5 benda ini akan dimasukan dalam botol, jadi cari yang beragam bunyinya jika botol dikocok. Ada kelereng yang ribut, ada kapas yang hampir tidak berbunyi).
Masukan ke dalam botol, 2 botol-2 botol. (ada 2 botol yang masing masing berisi 1 paper klip, ada 2 botol yang masing masing berisi 2 kelereng dst)
Suruh anak mencari pasangan botol dengan mengocok-ngocok botol tersebut.
Game ini melatih indera pendengaran

Memos (5-6)
Ini game memory card biasa dimana kartu di balik di atas meja, lalu anak membuka 2 kartu. Jika sama boleh diambil, jika tidak harus dibalik kembali.
Game ini melatih memory

Kategori Mathematics

Sorting buttons (2-3)
Sediakan kancing dalam berbagai bentuk dan ukuran dan wadah dimana anak bisa memasukkan kancing yang sama ke dalam 1 wadah. Tutup mata anak dan suruh menyortir kancing itu.
Game ini melatih indera peraba.

Flat shapes (3-4)
Ambil beberapa karton (atau bekas kartu) yang ukurannya sama. Gambar bentuk geometris di tengahnya (lingkaran, segitiga dll) lalu potong dengan silet/cutter. Jadi kita punya bentuk geometris dan bingkainya (kartu yang tengahnya ada lubang berbentuk segitiga, lingkaran dll). Minta anak memasangkan bentuk ke bingkainya.
Game ini melatih mengenal bentuk dengan melibatkan indera peraba (bukan hanya indera penglihatan)

Kategori Science and Nature

Cooking (2-3)
Ajak anak dalam aktivitas – aktivitas seperti mencampur ini itu. Setelah biasa, bisa diajak membuat kue kering dll.
Banyak yang bisa dipelajari dari keterlibatan anak di dapur seperti belajar tentang benda apa yang bisa larut dalam air, bagaimana benda berubah karena dingin atau panas

Floating and Sinking (3-4)
Bisa dilaksanakan di dapur : mana buah/sayur yang mengapung, mana yang tenggelam. Atau bisa dilaksanakan di kamar mandi : mana benda yang mengapung, mana yang tenggelam.

Food Groups Game (3-6)
Sediakan kertas besar dan gambar dari berbagai makanan (bisa digunting dari majalah-majalah). Bagi kertas besar menjadi 7 bagian : buah&sayuran, daging, susu, carbohidrat, kacang-kacangan, lemak, gula. Minta anak menempelkan gambar makanan di bidang yang tepat.
Game ini untuk memperkenalkan kebiasaan makan yang baik dan supaya anak aware atas apa yang dimakannya sehari-hari.

Kategori History

Timeline of your child’s day (3-4)
Sediakan kertas yang panjang dan beri garis dengan angka (jam) dari bangun sampai tidur. Sediakan foto anak sedang makan, tidur, mandi dll. Sama-sama menaruh foto itu di tempat yang benar.

Timeline of your child’s life (4-5)
Sama tapi foto diganti dengan foto ulangtahun, perayaan natal/lebaran dan lain-lain

Dua game ini membuat anak peka terhadap jalannya waktu dan membuat dia bisa “melihat” konsep waktu.

Kategori Geografi

Plan of the house (3-4)
Sediakan kertas yang besar dan gunting gambar-gambar perabot dari majalah seperti ranjang, sofa, lemari es dll. Buat peta rumah anda dengan kertas dan guntingan perabot tadi.
Game ini adalah awal dari pengenalan peta

Where do I live? (4-5)
Gambar-gambar tentang rumah yang berbeda (rumah panggung, igloo, rumah hewan, sarang burung dll). Pasangkan dengan si empunya rumah.

Kategori Arts and Craft

Printing Hands and feet (2-3)
Sediakan kertas besar, cat air. Biarkan anak membuat cap tangan dan kakinya pada kertas. Kertas bisa dijadikan kertas kado, atau bisa buat kartu dengan cara yang sama.
Game ini mengembangkan sense of design dan kreativitas.

Tearing, cutting and Colage (3-5)
Sediakan kertas kado, kertas tissue, bekas kartu, majalah, ini itu. Suruh anak robek atau gunting sesukanya dan tempel di atas kertas putih besar (bekas kalender).
Aktivitas ini untuk melatih kreativitas dan merasakan tekstur kertas yang berbeda-beda (melatih indera peraba)

Sewing (5-6)
Anak-anak boleh mulai menjahit di usia ke 5. (Jika anak anda menerima pelatihan Montessori di sekolahnya, ia akan tahu cara memegang jarum dan tidak usah takut tertusuk. Jika tidak, mungkin perlu berhati-hati atau gunakan jarum yang besar dan tidak tajam pada kain yang berserat besar).
Sediakan kain dan berbagai jenis benang. Biarkan mereka menjahit.
Ini untuk melatih fine motor skill.

Maria Montesorri percaya bahwa usia 0-6 dari hidup anak adalah masa yang sangat penting karena di saat itu anak mempunyai absorbent mind, otak yang siap belajar dan menyerap ilmu.

(artikel dari arleen315.blogspot.com)