Monday, April 10, 2017

MARKET DAY KB/TKIT. LEBAH MADU

Assalamu'alaikum...........

Setelah melakukan kunjungan edukatif ke stasiun dan naik kereta api,saatnya  lebah kecil kami untuk belajar menjadi pengusaha cilik. Wuah....seru kan ?? Pastinya... Tapi ini tidak mudah loh, Pada awalnya lebah lebah kecil kami belajar mengenal nilai mata uang rupiah,lalu observasi ke pasar modern BSD barulah mereka belajar menjadi pengusaha cilik dengan menjual makanan/minuman di area Car Free Day BSD.
"Hebat"...itu satu kata untuk mereka,bagaimana tidak ?? Dibutuhkan keberanian yang sangat besar untuk menghadapi para pembeli apalagi di area car free day yang cukup ramai. Mereka akan belajar berkomunikasi,belajar berhitung bahkan belajar percaya diri untuk menghadapi orang orang yang belum mereka kenal.
Alhamdulillah...para ayah bunda pun mendukung kegiatan sekolah ini. Mereka datang untuk memotivasi dan mendampingi ananda. Tidak hanya itu....para bunda bahkan menyiapkan barang dagangan yang akan dijajakan oleh ananda ananda kami. Tentunya kami berharap bahwa ukhuwah keluarga besar Lebah Madu akan semakin erat dengan adanya acara ini.Amiin.
Wah,,,hampir saja lupa,pada kegiatan Market Day ini lebah kecil menyempatkan diri untuk berolahraga bersama dan mengajak para ayah bunda serta orang orang yang ada di car free day untuk mengikuti senam pinguin bersama mereka. Ahaaa.....tidak hanya menjadi pengusaha cilik,mereka pun jadi instruktur senam cilik rupanya. Masyaallah......
Tak lupa kami pun berterimakasih kepada dinas perindustrian dan perdagangan yang memberikan kami panggung  dan sarana tenda untuk pelaksanaan kegiatan KB/TKIT. Lebah Madu tersebut.









KUNJUNGAN EDUKATIF KECIL (KERETA API)



# Februari 2017 #  

Alhamdulillah...lebah lebah kecil kami terlihat senang saat mengetahui akan berkunjung ke stasiun rawabuntu dan naik kereta api KRL. Berjalan tertib,mengikuti instruksi hingga akhirnya bertemu bapak masinis ketika berada di dalam kereta yang berhenti sejenak di stasiun parung panjang.




Assalamu'alaikum

Assalamualaikum......

Lama tak bersua di blog, apa kabar semua ? Apa kabar lebah lebah yang kini telah terbang tinggi untuk mengapai cita cita nya ? Bagaimana juga dengan kabar lebah lebah kecil  yang tengah memperkuat kepakan sayapnya ? Semoga semua selalu sehat dan dalam lindungan Allah SWT. Amiin.


Tak terasa waktu berjalan cepat, banyak kegiatan KB/TKIT. Lebah Madu yang terlewatkan dan bahkan belum sempat untuk diberitahukan melalui blog ini. Tapi tak mengapa, kami akan sedikit memberikan foto foto kegiatan lebah lebah kecil kami sebagai obat rindu. Tadaaaa.....inilah kami




Wassalamu'alaikum.....

Tuesday, October 22, 2013

BERCERITA UNTUK ANANDA

(http://dewipnfunyearlychildhoodeducation.blogspot.com)
Bercerita untuk ananda-ananda tersayang ternyata tidak mudah dilakukan. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan,antara lain:
1. Pemilihan Tema dan judul yang tepat
Bagaimana cara memilih tema cerita yang tepat berdasarkan usia anak? Seorang pakar psikologi pendidikan bernama Charles Buhler mengatakan bahwa anak hidup dalam alam khayal. Anak-anak menyukai hal-hal yang fantastis, aneh, yang membuat imajinasinya “menari-nari”. Bagi anak-anak, hal-hal yang menarik, berbeda pada setiap tingkat usia, misalnya;
a.sampai ada usia 4 tahun, anak menyukai dongeng fabel dan horor, seperti: Si wortel, Tomat yang Hebat, Anak ayam yang Manja, kambing Gunung dan Kambing Gibas, anak nakal tersesat di hutan rimba, cerita nenek sihir, orang jahat, raksasa yang menyeramkan dan sebagainya.
b.Pada usia 4-8 tahun, anak-anak menyukai dongeng jenaka, tokoh pahlawan/hero dan kisah tentang kecerdikan, seperti; Perjalanan ke planet Biru, Robot pintar, Anak yang rakus dan sebagainya
c.Pada usia 8-12 tahun, anak-anak menyukai dongeng petualangan fantastis rasional (sage), seperti: Persahabatan si Pintar dan si Pikun, Karni Juara menyanyi dan sebagainya
2. Waktu Penyajian
Dengan mempertimbangkan daya pikir, kemampuan bahasa, rentang konsentrasi dan daya tangkap anak, maka para ahli dongeng menyimpulkan sebagai berikut;
a.Sampai usia 4 tahun, waktu cerita hingga 7 menit
b.Usia 4-8 tahun, waktu cerita hingga 10 -15 menit
c.Usia 8-12 tahun, waktu cerita hingga 25 menit
Namun tidak menutup kemungkinan waktu bercerita menjadi lebih panjang, apabila tingkat konsentrasi dan daya tangkap anak dirangsang oleh penampilan pencerita yang sangat baik, atraktif, komunikatif dan humoris.
3. Suasana (situasi dan kondisi)
Suasana disesuaikan dengan acara/peristiwa yang sedang atau akan berlangsung, seperti acara kegiatan keagamaan, hari besar nasional, ulang tahun, pisah sambut anak didik, peluncuran produk, pengenalan profesi, program sosial dan lain-lain, akan berbeda jenis dan materi ceritanya. Pendidik dituntut untuk memperkaya diri dengan materi cerita yang disesuaikan dengan suasana. Jadi selaras materi cerita dengan acara yang diselenggarakan, bukan satu atau beberapa cerita untuk segala suasana.
PRAKTEK BERCERITA
1.Teknik Bercerita Pendidik perlu mengasah keterampilannya dalam bercerita, baik dalam olah vokal, olah gerak, bahasa dan komunikasi serta ekspresi. Seorang pencerita harus pandai-pandai mengembangkan berbagai unsur penyajian cerita sehingga terjadi harmoni yang tepat.
Secara garis besar unsur-unsur penyajian cerita yang harus dikombinasikan secara proporsional adalah sebagai berikut : (1) Narasi (2) Dialog (3) Ekspresi (terutama mimik muka) (4) Visualisasi gerak/Peragaan (acting) (5) Ilustrasi suara, baik suara lazim maupun suara tak lazim (6) Media/alat peraga (bila ada) (7) Teknis ilustrasi lainnya, misalnya lagu, permainan, musik, dan sebagainya.
2. Mengkondisikan Anak Tertib merupakan prasyarat tercapainya tujuan bercerita. Suasana tertib harus diciptakan sebelum dan selama anak-anak mendengarkan cerita. Diantaranya dengan cara-cara sebagai berikut:
a.Aneka tepuk: seperti tepuk satu-dua, tepuk tenang, anak sholeh dan lain-lain. Contoh; Jika aku (tepuk 3x)
sudah duduk (tepuk 3x)
maka aku (tepuk 3x)
harus tenang (tepuk 3x)
sst…sst..sst…
b.Simulasi kunci mulut: Pendidik mengajak anak-anak memasukkan tangannya ke dalam saku, kemudian seolah-olah mengambil kunci dari saku, kemudian mengunci mulut dengan kunci tersebut, lalu kunci di masukkan kembali ke dalam saku
c.“Lomba duduk tenang”, Kalimat ini diucapkan sebelum cerita disampaikan, ataupun selama berlangsungnya cerita. Teknik ini cukup efektif untuk menenangkan anak, Apabila cara pengucapannya dengan bersungguh-sungguh, maka anak-anak pun akan melakukannya dengan sungguh-sungguh pula.
d.Tata tertib cerita, sebelum bercerita pendidik menyampaikan aturan selama mendengarkan cerita, misalnya; tidak boleh berjalan-jalan, tidak boleh menebak/komentari cerita, tidak boleh mengobrol dan mengganggu kawannya dengan berteriak dan memukul meja. Hal ini dilakukan untuk mencegah anak-anak agar tidak melakukan aktifitas yang mengganggu jalannya cerita
e.Ikrar, Pendidik mengajak anak-anak untuk mengikrarkan janji selama mendengar cerita, contoh:
Ikrar..!
Selama cerita, Kami berjanji
1.Akan duduk rapi dan tenang
2.Akan mendengarkan cerita dengan baik
f. Siapkan hadiah!, secara umum anak-anak menyukai hadiah. Hadiah men dorong untuk anak-anak untuk mendapatkannya, meskipun harus menahan diri untuk tidak bermain dan berbicara. Bisa saja kita memberikan hadiah imajinatif seperti makanan, binatang kesayangan, balon yang seolah-olah ada di tangan dan diberikan kepada anak, tentu saja diberikan kepada anak-anak yang sudah akrab dengan kita, seringkali teknik ini menimbulkan kelucuan tersendiri.
3. Teknik Membuka Cerita
”Kesan pertama begitu menggoda selanjutnya ….terserah anda”, Kalimat yang mengingatkan kita pada salah satu produk yang diiklankan. Hal ini mengingatkan pula betapa pentingnya membuka suatu cerita dengan sesuatu cara yang menggugah. Mengapa harus menggugah minat? Karena membuka cerita merupakan saat yang sangat menentukan, maka membutuhkan teknik yang memiliki unsur penarik perhatian yang kuat, diantaranya dapat dilakukan dengan:
Pernyataan kesiapan : “Anak-anak, hari ini, Ibu telah siapkan sebuah cerita yang sangat menarik…” dan seterusnya. Potongan cerita: “Pernahkah kalian mendengar, kisah tentang seorang anak yang terjebak di tengah banjir?, kemudian terdampar di tepi pantai…?”
Sinopsis (ringkasan cerita), layaknya iklan sinetron “Cerita bu Guru hari ini adalah cerita tentang “seorang anak kecil pemberani, yang bertempur melawan raja gagah perkasa perkasa ditengah perang yang besar” (kisah nabi Daud) mari kita dengarkan bersama-sama !
Munculkan Tokoh dan Visualisasi “ dalam cerita kali ini, ada 4 orang tokoh penting…yang pertama adalah seorang anak yang jago main karate, ia tak takut dengan siapapun…namanya Adiba, yang kedua adalah seorang ketua gerombolan penjahat yang bernama Somad, badannya tinggi besar dan bila tertawa..iiih mengerikan karena sangat keras”…HA. HA..HA..HA..HA”, Somad memiliki golok yang sangat besar, yang ketiga seorang guru yang bernama Umar, wajahnya cerah dan menyenangkan…dan seterusnya.
Pijakan (setting) tempat “Di sebuah desa yang makmur…”, “Di pinggir pantai..” “Di tengah Hutan…” “Ada sebuah kerajaan yang bernama ..” “Di sebuah Pesantren…” dan lain-lain.
Pijakan (setting) waktu, “Jaman dahulu kala…” “Jaman pemerintahan raja mataram …” ”Tahun 2045 terjadi sebuah tabrakan komet…” “Pada suatu malam…” “Suatu hari…” dan lain-lain.
Ekspresi emosi: Adegan orang marah, menangis, gembira, berteriak-teriak dan lain-lain.
Musik & Nyanyian “Di sebuah negeri angkara murka, dimulai cerita…(kalimat ini dinyanyikan), atau ambillah sebuah lagu yang popular, kemudian gantilah syairnya dengan kalimat pembuka sebuah cerita.
Suara tak Lazim atau ”Boom” ! : Pendidik dapat memulai cerita dengan memunculkan berbagai macam suara seperti; suara ledakan, suara aneka binatang, suara bedug, tembakan dan lain-lain.
4. Menutup Cerita dan Evaluasi
a.Tanya jawab seputar nama tokoh dan perbuatan mereka yang harus dicontoh maupun ditinggalkan.
b.Doa khusus memohon terhindar dari memiliki kebiasaan buruk seperti tokoh yang jahat, dan agar diberi kemampuan untuk dapat meniru kebaikan tokoh yang baik.
c.Janji untuk berubah; Menyatakan ikrar untuk berubah menjadi lebih baik, contoh “Mulai hari ini, Aku tak akan malas lagi, aku anak rajin dan taat kepada guru!”
d.Nyanyian yang selaras dengan tema, baik berasal dari lagu nasional, popular maupun tradisional
e.Menggambar salah satu adegan dalam cerita. Setelah selesai mendengar cerita, teknik ini sangat baik untuk mengukur daya tangkap dan imajinasi anak.
5. Penanganan Keadaan Darurat
Apabila saat bercerita terjadi keadaan yang mengganggu jalannya cerita, pendidik harus segera tanggap dan melakukan tindakan tertentu untuk mengembalikan keadaan, dari kondisi yang buruk kepada kondisi yang lebih baik (tertib). Adapun kasus-kasus yang paling sering terjadi adalah:
a.Anak menebak cerita. Penanganan: Ubah urutan cerita atau kreasikan alur cerita
b.Anak mencari perhatian. penanganan: sampaikan kepada anak tersebut bahwa kita dan teman-temannya terganggu, kemudian mintalah anak tersebut untuk tidak mengulanginya.
c.Anak mencari kekuasaan. Penanganan: Pendidik lebih mendekat secara fisik dan lebih sering melakukan kontak mata dengan hangat.
d.Anak gelisah. Penanganan: Pendidik lebih dekat secara fisik dan lebih sering melakukan kontak mata dengan hangat, kemudian mengalihkan perhatiannya kepada aktivitas bersama seperti tepuk tangan dan penyanyi yang mendukung penceritaan.
e.Anak menunjukkan ke tidak puasan. Penanganan: Pendidik membisikkan ke telinga anak tersebut dengan hangat ”Adik anak baik, Ibu makin sayang jika adik duduk lebih tenang”
f.Anak-anak kurang kompak. Pananganan: pendidik lebih variatif mengajak tepuk tangan maupun yel-yel.
g.Kurang taat pada aturan atau tata tertib. Penanganan: Pendidik mengulangi dengan sungguh-sungguh tata tertib kelas.
h.Anak protes minta ganti cerita. Penanganan: Katakanlah ”Hari ini ceritanya adalah ini, cerita yang engkau inginkan akan Ibu sampaikan nanti”.
i.Anak menangis. Penanganan: Mintalah orang tua atau pengasuh lainnya membawa keluar.
j.Anak berkelahi. Penanganan: Pisahkan posisi duduk mereka jangan terpancing untuk menyelesaikan masalahnya, namun tunggu setelah selesai cerita
k.Ada tamu. Penanganan: Berikan isyarat tangan kepada tamu agar menunggu, kemudian cerita diringkas untuk mempercepat penyelesaiannya
Suasana cerita sangat ditentukan oleh ketrampilan bercerita pendidik dan hubungan emosional yang baik antara pendidik dengan anak-anak. Beberapa kasus di atas hanyalah sebagian contoh yang sering muncul saat seorang pendidik bercerita, jadi penanganannya bisa disesuaikan dengan situasi dan kondisi serta kreativitas pendidik.
6. Media dan Alat bercerita
Berdasarkan cara penyajiannya, bercerita dapat disampaikan dengan alat peraga maupun tanpa alat peraga (dirrect story). Sedangkan bercerita dengan alat peraga tersebut dibedakan menjadi peraga langsung (membawa contoh langsung:kucing dsb) maupun peraga tidak langsung (boneka, gambar, wayang dsb). Agar bercerita lebih menarik dan tidak membosankan, pendidik disarankan untuk lebih variatif dalam bercerita, adakalanya mendongeng secara langsung, panggung boneka, papan flanel, slide, gambar seri, membacakan cerita dan sebagainya.sehingga kegiatan bercerita tidak menjemukan.

Tuesday, October 8, 2013

FAMILY DAY

Hmmm....tak lengkap rasanya apabila kegiatan yang dilakukan bersama ananda-ananda kami tercinta tidak dilakukan pula bersama para Orangtua. Nah,oleh karena itu,kami dari KB/TKIT Lebah Madu senantiasa berusaha setidaknya satu kali dalam satu tahun ajaran mengadakan suatu kegiatan yang bertemakan 'FAMILY DAY'. Family Day ini dapat diikuti oleh setiap anggota keluarga besar KB/TKIT Lebah Madu. Adapun tempat dan jenis kegiatan yang disajikan untuk Family Day berbeda-beda untuk setiap tahunnya. Seperti ketika tahun ajaran 2011/2012, Family Day dilaksanakan di Hutan Kota,Techno Park-BSD. Wah meski tempat relatif dekat,tapi kami berupaya untuk mengadakan suatu kegiatan yang tidak biasa. Semua keluarga ananda-ananda KB/TKIT Lebah Madupun berkumpul dari Ayah,Ibu,adik,Kakak bahkan terkadang Tante atau bahkan Kakek/Nenek pun diajak ikut serta. :)). Saat itu,kami bekeerjasama dengan tim ASA yakni salah satu tim pecinta alam untuk menyediakan segala fasilitas outbound untuk anak dan orangtua. Alhamdulillah semua berjalan dengan lancar dan seru.
Family Day T.A 2011/2012
Tidak jauh berbeda dengan Family Day sebelumnya,Family Day tahun berikutnya diadakan agak jauh dari BSD yakni di Taman Wisata Matahari (TWM),Puncak-Bogor. Meskipun berangkat sangat pagi,tapi subhanallah Ayah dan Bunda terlihat sangat bersemangat. Awan Hitam sudah terlihat menggelayut,tapi itu tidak menyurutkan langkah mereka. Seperti halnya senyum yang berkembang dari wajah-wajah mungil ananda kami tersayang begitupula yang tampak pada wajah Ayah dan Bunda. Games-games yang disediakan oleh Fasilitator TWM sangatlah menarik. Hujan deras bahkan mengguyur TWM saat itu,namun tidak seperti yang kami sempat duga,ternyata semangat ayah-bunda dari awal berangkat tak kunjung padam. Kegiatan ananda dan orangtua saat itu memang dipisahkan,sehingga ananda-ananda kami tetap terlindung dari hujan,sedang untuk orangtua ternyata hujan merupakan tantangan tersendiri untuk tetap melaksanakan Games-games tersebut. Terimakasih Ayah,bunda telah mendukung kegiatan ini. Kelelahan,ketegangan semua sirna dengan senyum dan tawa yang ada saat itu. Semoga semua kegiatan ini akan menjadi jembatan untuk lebih mempererat tali silaturahim dan memperlancar komunikasi sekolah dengan keluarga KB/TKIT Lebah Madu. Amin
Family Day T.A 2012/2013

Saturday, October 5, 2013

TIPS MELATIH SIKAP DISIPLIN ANAK PRESCHOOL

(www.benesse-id.com) Mengajarkan disiplin kepada si kecil yang tengah berada dalam program preschool adalah sebuah tantangan. Pasalnya, pada usia tersebut seorang anak biasanya lebih aktif dan lebih menguji kesabaran kita sebagai orang tua karena rasa ingin tahunya yang tinggi. Tapi pada satu kasus tertentu, mengajarkan disiplin kepada si kecil tidak harus dengan cara yang “keras”. Ibarat api dilawan dengan api, perilaku disiplin tidak akan diperoleh dan justru hanya sakit hati yang muncul. Ada banyak cara mengajarkan anak preschool untuk menjadi disiplin tanpa harus teriak atau berbuat fisik. Berikut adalah tips-nya:
Pahami makna di balik perilaku anak
Naomi Aldort, penulis buku “Raising Our Children, Raising Ourselves” mengatakan bahwa sebenarnya setiap anak ingin berperilaku baik. Jika sepertinya mereka melenceng, itu bukan alasan yang sah. Hal yang paling penting adalah untuk mencari tahu mengapa si kecil bisa begitu agresif atau sulit diajak disiplin. Begitu Anda tahu akar permasalahannya, Anda dapat dengan mudah mengajarkan konsep disiplin kepada si kecil. Jadi, tanya diri Parents sendiri. Apakah si kecil memukul kakaknya adalah bentuk keputusasaan untuk mendapat perhatian dari Anda? Bisa jadi Parents terlalu lama menelepon teman/klien pekerjaan saat ia (si kecil) membutuhkan perhatian.
Fokus pada pengendalian diri Anda, bukan kepada anak Anda
Dr. Katherine, penulis buku “The 101s: A Guide to Positive Disciplne” mengatakan bahwa orang tua harus menjadi role model untuk perilaku anaknya. “Kita tidak harus melakukan perbuatan negatif di depan anak-anak kita seperti berteriak, memukul, memaki, dan sebagainya,” ujar Dr. Katherine. Dalam kasus yang ekstrim, ada baiknya Anda mengambil nafas dalam-dalam dan merenung sampai Anda kembali tenang untuk menghadapi si kecil yang sulit disiplin.
Konsisten dengan harapan Anda
Terkadang ada sebagian Parents yang sering mengabaikan perilaku negatif anaknya dengan harapan hal itu akan berlalu dengan sendirinya. Padahal itu salah. Jika anak Anda menggigit temannya, misalnya, Parents harus memegang tangannya dan katakan bahwa perilakunya tersebut tidak bisa di terima. Jika ia tetap melakukannya, maka Parents sebaiknya membawanya keluar dari situasi tersebut.
Berikan perhatian pada perilaku yang Anda suka, bukan yang Anda tidak suka
Anak-anak senang bertingkah karena mereka ingin mendapatkan perhatian Parents. Jadi, sebaiknya ada beberapa tingkah yang sebaiknya Parents hindari supaya mereka tidak terbiasa mencari perhatian dengan cara yang salah. Ketika anak Anda merengek atau mengamuk, boleh sekali-kali Anda berpura-pura tidak mendengarnya atau pura-pura tidak melihat. Itu akan mengajarkan anak Anda ada banyak cara yang lebih baik untuk berkomunikasi. Anak-anak yang mendengar kata “tidak” atau “jangan” sepanjang waktu, cenderung berperilaku di luar arahan orang tuanya. Jadi, sebaiknya jangan mengatakan kepada anak Anda apa yang tidak boleh dilakukan dan sebaiknya diganti dengan menggunakan kalimat atau ajakan yang lebih positif. Misalnya, ketika si kecil mulai bertingkah di supermarket, Anda bisa meminta si kecil untuk membantu memilih buah atau membantu merapikan barang belanjaan di keranjang belanja.

Friday, October 4, 2013

EVERYTIME IS FUN.....

Mendengarkan dongeng dari PKPU.... hmm...seru...
Sentra peran : Mengenal hujan...:)
Wah...memotong hewan kurban.... (Bermain peran : Idul Adha)
Saatnya....berkreasi dalam seni.. ^_^

Sunday, January 1, 2012

LEBAH MADU : Sang Arsitek dan Penari Ulung



Di antara makhluk paling memukau di alam ini adalah lebah madu, makhluk mungil yang menghidangkan kita sebuah minuman yang sempurna, yaitu madu yang dihasilkannya.


Lebih Hebat dari Ahli Matematika

Lebah madu hidup sebagai koloni dalam sarang yang mereka bangun dengan sangat teliti. Dalam tiap sarang terdapat ribuan kantung berbentuk heksagonal atau segi enam yang dibuat untuk menyimpan madu. Tapi, pernahkah kita berpikir, mengapa mereka membuat kantung-kantung dengan bentuk heksagonal?
Para ahli matematika mencari jawaban atas pertanyaan ini, dan setelah melakukan perhitungan yang panjang dihasilkanlah jawaban yang menarik! Cara terbaik membangun gudang simpanan dengan kapasitas terbesar dan menggunakan bahan bangunan sesedikit mungkin adalah dengan membuat dinding berbentuk heksagonal.
Mari kita bandingkan dengan bentuk-bentuk yang lain. Andaikan lebah membangun kantung-kantung penyimpan tersebut dalam bentuk tabung, atau seperti prisma segitiga, maka akan terbentuk celah kosong di antara kantung satu dan lainnya, dan lebih sedikit madu tersimpan di dalamnya. Kantung madu berbentuk segitiga atau persegi bisa saja dibuat tanpa meninggalkan celah kosong. Tapi di sini, ahli matematika menyadari satu hal terpenting. Dari semua bentuk geometris tersebut, yang memiliki keliling paling kecil adalah heksagonal. Karena alasan inilah, walaupun bentuk-bentuk tersebut menutupi luasan areal yang sama, material yang diperlukan untuk membangun bentuk heksagonal lebih sedikit dibandingkan dengan persegi atau segitiga. Singkatnya, suatu kantung heksagonal adalah bentuk terbaik untuk memperoleh kapasitas simpan terbesar, dengan bahan baku lilin dalam jumlah paling sedikit.

Hal lain yang mengagumkan tentang lebah madu ini adalah kerjasama di antara mereka dalam membangun kantung-kantung madu ini. Bila seseorang mengamati sarang lebah yang telah jadi, mungkin ia berpikir bahwa rumah tersebut terbangun sebagai blok tunggal. Padahal sebenarnya, lebah-lebah memulai membangun rumahnya dari titik yang berbeda-beda. Ratusan lebah menyusun rumahnya dari tiga atau empat titik awal yang berbeda. Mereka melanjutkan penyusunan bangunan tersebut sampai bertemu di tengah-tengah. Tidak ada kesalahan sedikitpun pada tempat di mana mereka bertemu.
Lebah juga menghitung besar sudut antara rongga satu dengan lainnya pada saat membangun rumahnya. Suatu rongga dengan rongga di belakangnya selalu dibangun dengan kemiringan tiga belas derajat dari bidang datar. Dengan begitu, kedua sisi rongga berada pada posisi miring ke atas. Kemiringan ini mencegah madu agar tidak mengalir keluar dan tumpah.


Berkomunikasi dengan Menari

Untuk mengisi kantung-kantung ini dengan madu, lebah harus mengumpulkan nektar, yakni cairan manis pada bunga. Ini adalah tugas yang sangat berat. Penelitian ilmiah terkini mengungkapkan bahwa untuk memproduksi setengah kilogram madu, lebah harus mengunjungi sekitar empat juta kuntum bunga. Mendapatkan bunga-bunga ini pun adalah pekerjaan berat tersendiri. Oleh karenanya, koloni lebah memiliki sejumlah lebah pemandu dan lebah pencari makan.
Bagaimana lebah pencari makan menemukan bunga di wilayah yang begitu luas dibanding ukuran tubuh mereka?
Bagaimana mereka menemukan jalan kembali ke sarang tanpa tersesat? Bagaimana mereka memberitahu lebah-lebah lain tentang arah sumber bunga? Tatkala kita berusaha menjawab beragam pertanyaan ini, kita akan sampai pada kenyataan yang sungguh menakjubkan.

Ketika seekor lebah telah menemukan sumber bunga, maka tugas berikutnya dari lebah pemandu ini adalah untuk kembali ke sarang dan memberitahu lebah-lebah lain tentang lokasi di mana ia menemukan kumpulan bunga tersebut. Segera setelah lebah pemandu kembali ke sarangnya, ia mulai memberitahukan lokasi sumber bunga yang ia temukan kepada lebah-lebah lain. Pertama, ia membiarkan lebah-lebah lain mencicipi sedikit nektar yang ia kumpulkan dari bunga untuk memberitahu mereka tentang kualitas nektar tersebut. Lalu ia memulai tugas utamanya, yakni menjelaskan arah menuju sumber bunga. Ia melakukan ini dengan cara yang sangat unik, yaitu dengan tarian. Lebah pemandu mulai menari di tengah-tengah sarang dengan menggoyangkan badannya. Sulit dipercaya, tapi gerakan dalam tarian ini memberikan lebah-lebah lain informasi tentang lokasi sumber bunga. Misalnya, jika tarian berupa garis lurus ke arah bagian atas sarang, maka sumber makanan tepat mengarah ke arah matahari. Jika bunga berada pada arah sebaliknya, lebah akan membuat garis ke arah tersebut. Jika lebah menari ke arah kanan, maka ini menunjukkan bahwa sumber bunga berada tepat sembilan puluh derajat ke arah kanan.

Tetapi ada satu pertanyaan, lebah menjelaskan arah tersebut berdasarkan posisi matahari, padahal posisi matahari terus berubah. Setiap empat menit matahari bergeser satu derajat ke barat, faktor yang mungkin menurut anggapan orang diabaikan lebah dalam penentuan arah ini. Tapi, pengamatan menunjukkan bahwa lebah-lebah ini juga memperhitungkan pergerakan matahari. Ketika lebah pemandu memberitahu arah lokasi bunga, dalam setiap empat menit, sudut yang mereka beritahukan juga bertambah satu derajat ke barat. Berkat perhitungan yang luar biasa ini, para lebah tidak pernah tersesat.

Lebah pemandu tak hanya menunjukkan arah sumber bunga, tetapi juga jarak ke tempat tersebut. Lama waktu tarian dan jumlah getaran memberi petunjuk kepada lebah-lebah lain tentang jarak ini secara akurat. Mereka membawa perbekalan sari-sari makanan yang sekedar cukup untuk menempuh jarak ini, dan kemudian memulai perjalanan.
Perilaku mengagumkan dari para lebah ini telah diuji dalam sebuah penelitian di California. Dalam penelitian ini, tiga wadah berisi air gula diletakkan di tiga tempat yang berbeda. Sesaat kemudian, lebah-lebah pemandu menemukan sumber makanan tersebut. Lebah pemandu yang mendatangi wadah pertama diberi tanda titik; yang mendatangi wadah kedua ditandai dengan garis, dan yang mendatangi wadah ketiga diberi tanda silang. Beberapa menit kemudian, lebah-lebah dalam sarang tampak mengamati dengan cermat para lebah pemandu ini. Para ilmuwan lalu memberi tanda titik pada lebah-lebah yang mengamati lebah pemandu bertanda titik, dan demikian halnya, mereka juga memberi lebah-lebah lain tanda yang sama dengan yang ada pada lebah pemandu yang mereka amati. Beberapa menit kemudian, lebah-lebah bertanda titik mendatangi wadah pertama, yang bertanda garis tiba di wadah kedua dan yang bertanda silang di wadah ketiga.
Jadi, terbukti bahwa lebah-lebah dalam sarang menemukan arah berdasarkan informasi yang sebelumnya telah disampaikan oleh lebah-lebah pemandu.
Segala fakta ini hendaknya direnungkan dengan seksama. Dari mana lebah-lebah memperoleh kemampuan berorganisasi yang menakjubkan? Bagaimana seekor serangga mungil yang tak memiliki kecerdasan atau sarana berpikir mampu bertugas sebagai pencari makanan? Bagaimana ia dapat berpikir untuk mencari sumber makanan dan kemudian memberitahukannya kepada rekan-rekan sesarangnya? Bahkan jika ia dianggap mampu memikirkannya, bagaimana ia dapat menciptakan tarian untuk memberitahu yang lain tentang lokasi dan jarak sumber makanan? Bagaimana lebah-lebah dalam sarang mampu memahami arti gerakan dan getaran rumit dari lebah-lebah pemandu ?
Teori Evolusi Darwin yang mengklaim bahwa kehidupan di bumi terjadi secara kebetulan, tak mampu menjawab beragam pertanyaan ini. Segala keahlian khusus lebah ini menunjukkan bahwa Penciptanya telah memberikan semua sifat ini kepada mereka.
Allah menciptakan, dan mengilhami mereka untuk melakukan pekerjaan mereka. Fakta ini dinyatakan dalam Alquran:

Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan ditempat-tempat yang dibikin manusia. Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kebesaran Tuhan, bagi orang-orang yang memikirkan. (QS. An-Nahl, 16: 68-69)



From : Harun Yahya Artikel

Friday, December 16, 2011

MEMILIH SEKOLAH DASAR UNGGULAN

(www.ganeca-exact.com)



Merasa nyaman dan senang bersekolah merupakan faktor penting yang akan memberikan motivasi tinggi terhadap anak dalam proses belajar.

Seorang anak -- sebut saja Rani -- kini berusia 6 tahun 9 bulan. Dia duduk di bangku kelas 1 Sekolah Dasar (SD). Tidak seperti siswa lainnya, Rani tampaknya menghadapi berbagai masalah. Tugas-tugas sekolahnya tidak pernah selesai. Posisi duduknya menunjukkan kurangnya minat dan motivasinya terhadap sekolah. Tiap ingin berangkat ke sekolah, dia selalu merasakan sakit perut. Tapi setelah diperiksakan ke dokter, tidak ditemukan adanya gejala klinis. Rani sehat-sehat saja.

Di sekolah, Rani belajar bersama 39 siswa lainnya dalam satu kelas dengan seorang guru kelas. Guru mengajar dengan cara memberikan catatan-catatan di papan tulis dan murid mencatat di bukunya masing-masing. Di papan terdapat beberapa catatan mengenai beberapa mata pelajaran sekaligus. Ini dilakukan untuk memberikan kesempatan bagi amak-anak yang ketinggalan dalam mencatat.

Rani tidak pernah selesai dalam mencatat maupun menyelesaikan soal-soal yang diberikan gurunya. Guru pun tidak berupaya menyediakan waktu bagi Rani untuk mengatasi masalah yang dihadapi muridnya. Rani memang termasuk anak pendiam, agak malu-malu dan kurang berinisiatif dalam memulai pertemanan.

Tentu saja orang tua Rani bingung. Kebingungan itu bukan tanpa alasan. Masalahnya, saat belajar di Taman Kanak-kanak (TK), Rani termasuk anak yang cepat dan mudah mengikuti kegiatan-kegiatan yang diberikan oleh guru. Dia sudah dapat membaca, berhitung, dan menulis saat menyelesaikan pendidikannya di TK.

Apa yang terjadi pada diri anak itu? Linda Primana, staf pengajar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI) yang mengisahkan kasus tersebut dalam sebuah seminar yang diselenggarakan Jakarta Books Rabu (14/4) lalu. Ia melihat, tampaknya sekolah yang ditempati Rani saat ini tidak sesuai dengan keadaan perkembangan dirinya.

Linda menuturkan, orang tua beranggapan dengan perkembangan yang baik di TK, Rani dapat dengan mudah mengikuti pelajaran-pelajaran di SD yang dipilih orang tuanya. ''Padahal, untuk dapat masuk dan memulai pendidikan di SD, dibutuhkan kematangan dan kesiapan sekolah yang mencakup aspek fisik, mental, dan sosial-emosional,'' tuturnya.

Bagi seorang anak, kata Linda, kelas 1 SD merupakan periode trasisi dari masa kanak-kanak yang pesat pertumbuhannya ke fase berikutnya yang memiliki laju perkembangan tidak secepat sebelumnya. Meskipun semua pertumbuhan mengikuti pola umum, namun setiap anak memiliki pola dan waktu tumbuh yang khas.

Dia mengatakan, ada anak yang 'matang' lebih cepat, ada pula yang lebih lambat dibandingkan anak lain, baik dari segi fisik, mental, sosial, maupun emosional. ''Terlalu cepat atau terlalu lambatnya pertumbuhan dapat terjadi pada semua aspek, namun dapat pula terjadi pada satu atau beberapa aspek saja,'' tuturnya.

Linda juga menambahkan bahwa perbedaan kecepatan perkembangan anak dapat disebabkan oleh keadaan yang dibawa sejak lahir maupun oleh pengalaman hidup, seperti gizi, penyakit, atau deprivasi.

Prof Dr Soegeng Santoso yang juga menjadi pembicara dalam seminar itu memandang perlu memperhatikan anak di usia 0 - 6 tahun. Di masa-masa seperti itu, disebutnya, kecerdasan anak sudah mencapai 80 persen. ''Kalau itu tidak diperhatikan, jenjang selanjutnya akan susah,'' tutur guru besar Universitas Negeri Jakarta (UNJ) ini.

Bagaimana memilih sekolah yang unggul untuk masuk SD? Pendiri Program Studi Pendidikan Anak Usia Dini UNJ itu mengatakan, dewasa ini yang dianggap pembelajaran unggul oleh masyarakat adalah hasilnya. Padahal yang tepat, proses dan hasilnya. Dengan menekankan pada hasil anak dituntut menjadi juara kelas, nilainya selalu bagus. Anak kemudian diikutkan dalam bimbingan belajar, sebab hasil pembelajaran di sekolah dirasakan kurang. ''Cara ini kadang-kadang mengenyampingkan proses pendidikan, yaitu membentuk kepribadian anak,'' tuturnya.

Sekolah yang unggul, menurut dia, bila memenuhi beberapa kriteria. Antara lain guru yang pandai dan mempunyai kepribadian yang matang, metode mengajar yang cocok dengan mata pelajaran yang diberikan guru, keseimbangan antara pelajaran jasmani dan rohani, dan memperhatikan berbagai kecerdasan yang dimiliki anak. Dia menyarankan, sebaiknya mencari SD yang memenuhi syarat seperti itu. Paling tidak sebagian besar dari syarat tersebut.

Soegeng mengingatkan, faktor yang tidak boleh dilupakan adalah disenangai anak atau tidak. Yang bagus, kata dia, sekolah itu sangat disenangi oleh anak, sebab akan memberikan motivasi yang tinggi untuk belajar. ''Jangan sampai anak dipaksa ke sekolah tertentu atas kemauan orang tua semata,'' tuturnya.

Linda menambahkan, untuk menemukan sekolah yang paling sesuai dengan kondisi anak, sebaiknya mencari informasi sebanyak-banyaknya mengeai berbagai sekolah yang terdapat di lingkungan rumah atau yang terjangkau lokasinya. Dalam memilih sekolah, katanya, perhatikan atau cari informasi tentang karateristik guru-guru yang mengajar di sekolah tersebut.

Menurut dia, kepribadian guru sangat menentukan karena sebaik apa pun kurikulum bila disampaikan oleh guru yang tidak memiliki kepribadian yang patut diteladani, akan sia-sia. ''Yang paling penting peran guru. Anak harus dibuat nyaman, tidak ada rasa takut,'' ujarnya.

Ketidaknyamanan semacam itulah yang dirasakam Rani, seperti dikisahkan di awal tulisan ini. Lalu, bagaimana menyelesaikannya? ''Saya menganjurkan pindah sekolah,'' Linda menyarankan.
Idealnya, Proses dan Hasil

Seorang guru mengeluhkan kondisi pendidikan di sekolah tempatnya mengajar. Guru salah satu sekolah ternama di Jakarta ini merasakan kerap ada ketidaksesuaian pandangan antara keinginan sekolah dan keinginan orang tua dalam mendidik siswa. ''Sekolah mau menekankan pada proses, orang tua maunya hasil.'' tuturnya dalam seminar yang diselenggarakan Jakarta Books tersebut.

Menjawab pertanyaan itu, Prof Dr Soegeng Santoso cenderung tidak menyalahkan kedua pandangan yang berbeda tersebut. Guru besar Universitas Negeri Jakarta (UNJ) itu bilang, ''Idealnya, proses dan hasil.'' Menurut dia, proses berkaitan dengan pribadi anak. Orientasi pada hasil juga diperlukan untuk bisa maju. ''Hasil dan proses tidak bisa dipisahkan,'' katanya.

Soegeng menuturkan, antara orang tua dan guru harus terjalin kerja sama yang baik. Namun dia mengingatkan, jangan guru mengintervensi ke rumah. Atau sebaliknya, jangan orang tua mengintervensi sekolah. Kedua pihak harus saling mengisi dan menjalin hubungan yang harmonis.

Sebenarnya, menurut Soegeng, yang utama dalam pendidikan adalah proses. Hanya saja, tidak sedikit sekolah yang lehih mengedepankan pada hasil akhir. Ini menyebabkan anak didik kurang memperoleh kesempatan untuk bersenang-senang. Pelajaran menjadi tidak menyenangkan.

Padahal, dalam pembelajaran, guru wajib memberikan suasana senang. Jangan sampai siswa takut kepada guru, takut pada mata pelajaran. Siswa harus dibuat senang dengan pelajaran dan senang belajar. ''Menakut-nakuti dalam mendidik tidak baik. Hindari kata 'jangan' karena anak biasanya bereksperimen,'' dia mengingatkan. bur

Sumber : Republika (16 April 2004)

Thursday, December 8, 2011

@TAMAN SAFARI (KUNJUNGAN EDUKATIF BESAR)







Rabu,23 November 2011
Pagi itu....mendung sedikit bergelayut, tapi hal tersebut tidak menyurutkan langkah-langkah kecil ananda-ananda kami untuk mengikuti Kunjungan Edukatif Besar ke Taman Safari BOGOR. Subhanallah...mereka siap dengan tas mungil berisikan jas hujan serta minuman botol bertali. Senyum terkembang merekah menyinari perjalanan kami. Alhamdulillah...tidak ada kemacetan yang menghalanng,kami pun sampai disana sesuai dengan jadwal. Raut wajah berseri,diiringi dengan pertanyaan-pertanyaan kecil membuat suasana lebih ceria tatkala bus mengelilingi Taman Safari. Banyak komentar-komentar lucu dan lugu yang terlontar dari mulut mungil mereka.
Akhirnya sampailah kami di tempat "Elephant Show" untuk melihat atraksi gajah dan berkunjung ke Baby zoo untuk melihat segala jenis burung,harimau,kanguru,dll. Ananda-ananda kami betul-betul terlihat senang terutama saat mereka berkesempatan memberi makan gajah dengan wortel yang telah kami beli saat di jalan masuk Taman Safari.
Meski perjalanan terasa melelahkan karena bus tak dapat parkir diatas seperti tahun sebelumnya :),namun ternyata senyum mereka masih terhias bahkan saat gerimis turun,mereka pun langsung mengenakan jas hujan warna-warni saat itu. Semoga perjalanan kami di Taman Safari yang bertujuan untuk mengenalkan segala jenis makhluk hidup ciptaan Allah,membuat ananda-ananda kami kelak menjadi hamba Allah SWT yang selalu bersyukur. Amiinn. :)

Thursday, October 27, 2011

CARA ATASI SIFAT PEMALU ANAK




(www.balita-anda.com)

Jika anak Anda benar-benar pemalu, jangan sekali-kali melabelnya, karena akan membuat rasa malu anak semakin menjadi. Ingat, anak akan berperilaku sesuai dengan apa yang dilabelkan. Anda bisa turut andil meminimalkan sifat pemalu pada anak.

Sebelumnya, yang perlu orangtua lakukan adalah mencari tahu, apa penyebabnya serta dalam situasi dan kondisi seperti apa anak menjadi pemalu. Apakah hanya ketika di luar rumah, di saat situasi tertentu saja, dan sebagainya. Dengan begitu, orangtua memiliki data akurat sebelum menangangi penyebabnya.

1. Kontak mata
Ketika berbicara dengan anak, minta ia selalu untuk menatap mata Anda. Dengan memaksa dan menerapkannya setiap waktu, lambat laun anak akan terbiasa melakukan kontak mata dengan lawan bicara.

Jika anak tidak merasa nyaman menatap tepat di mata lawan bicara, ajarkan ia untuk menatap puncak hidung di antara kedua mata orang di hadapannya. Dengan praktik berulang kali, anak tidak akan memerlukan teknik ini lagi dan lebih percaya diri untuk menatap langsung mata lawan bicaranya.

2. Melatih percakapan
Buat daftar berisi kalimat pembuka percakapan yang mudah digunakan anak untuk bercakap-cakap dengan berbagai kelompok orang, misalnya orang yang telah dikenalnya, orang dewasa yang belum pernah ditemuinya, teman lama yang jarang dijumpainya, anak baru di sekolah, atau anak yang sering bermain dengannya di taman bermain.

Setelah itu, ajak anak berlatih menggunakan kalimat-kalimat tersebut sampai merasa terbiasa dan nyaman mengucapkannya. Salah satu trik yang dapat digunakan adalah mempraktikkan perbincangan via telepon dengan pendengar suportif di ujung lain. Dengan demikian, anak tidak akan merasa setertekan seperti jika melakukan pembicaraan tatap muka.

3. Berlatih sosialisasi
Siapkan anak untuk menghadiri acara sosial yang akan segera diselenggarakan dengan menjelaskan latar, ekspektasi, serta para hadirin yang kira-kira datang ke acara itu. Kemudian, bantu anak berlatih bagaimana cara bertemu orang lain, tata krama di meja makan, keterampilan dasar berbicara, dan bagaimana cara mengucapkan salam perpisahan dengan anggun.

4. Lawan berlatih
Philip Zimbardo, yang terkenal sebagai pakar mengatasi rasa malu, merekomendasikan untuk memasangkan anak pemalu dengan anak yang lebih muda darinya untuk berlatih dalam periode singkat. Ciptakan kesempatan bagi anak untuk bermain dengan anak lain yang lebih muda darinya, misalnya adik, sepupu, anak tetangga, atau salah satu anak kenalan Anda.

Jika anak yang pemalu berusia remaja, coba menyuruhnya mengasuh anak kecil untuk mempraktikkan keahlian bersosialisasi yang enggan dipraktikkannya dengan anak-anak seusianya.

5. Satu lawan satu
Dr. Fred Frankel, seorang psikolog dan pembentuk Program Pelatihan Kemampuan Bersosialisasi UCLA, menyarankan permainan satu lawan satu sebagai cara terbaik bagi anak untuk membangun rasa percaya diri.

Dorong anak mengundang seorang temannya untuk bermain bersama selama beberapa jam hingga saling mengenal dan mempraktikkan keahlian berteman. Sediakan makanan kecil sebagai camilan dan cegah interupsi sedapat mungkin dari aktivitas mereka. Jangan izinkan anak menyalakan televisi selama sesi bermain tersebut.

Selanjutnya, orangtua bisa melakukan sejumlah cara ini:

1. Ajari anak untuk bersikap, berperilaku, mau pun bertata krama dalam beragam situasi tertentu. Bagaimana ia belajar memulai percakapan dengan menyapa temannya. Misalnya menanyakan kabar, memuji penampilan, atau membagi makanan ringan yang dibawanya. Setelah komunikasi pertama berjalan lancar, anak bisa belajar mengangkat topik yang sedang hangat atau menjadi kesukaan anak.

2. Beri anak pelatihan agar ia terampil bicara di depan orang banyak atau umum, dimulai dengan berbicara di depan cermin, lalu di depan orangtua dan saudaranya di rumah.

3. Ajarkan juga agar ia dapat memimpin dengan memberinya tugas dan tanggung jawab, seperti memimpin doa di kelas.

4. Doronglah ia agar berani dan terbuka saat mengungkapkan unek-unek atas kekesalannya.

5. Orangtua memberikan contoh, bagaimana menjadi pribadi yang percaya diri dan berani, sehingga anak bisa menirunya. Saat berada di restoran, lalu mendapatkan makanan yang tidak sesuai pesanan, misalnya, orangtua berani memanggil pramusaji untuk memintanya menggantinya.

6. Ciptakan lingkungan yang aman bagi anak, sehingga anak tidak merasa cemas atau takut dipersalahkan, ditertawakan, dimarahi, dan sebagainya.

7. Bantu anak membuat dirinya merasa nyaman dengan perasaannya, juga membantu menumbuhkan rasa percaya dirinya dengan berbagai keterampilan.

Bila orangtua merasa sudah maksimal namun tetap tak berhasil mengubah sifat pemalu anak, tak ada salahnya meminta bantuan ahli. Dengan begitu, potensi dan kemampuan sosialisasi anak tidak terganggu karena rasa malu yang berlebihan.

Saturday, December 18, 2010

Sang Pemenang





Alhamdulillah.. 04 Desember 2010 yang lalu,ananda-ananda kami meraih JUARA I (RAFI FADILAH Y.) dan JUARA III (NAJWAN SALEH) pada perlombaan "HAFALAN SURAT-SURAT PENDEK ALQURAN" di SD RAUDHAH BSD. Perlombaan ini hanya diwakili oleh 4 anak dengan maksud untuk melatih rasa percaya diri dan membangun jiwa kompetisi yang sehat diantara mereka. Namun,meskipun begitu semua ananda-ananda KB/TKIT LEBAH MADU merupakan Juara/Pemenang bagi kami semua. ^^

Sunday, November 14, 2010

KUNJUNGAN EDUKATIF BESAR ke MEKARSARI..




Assalamu'alaikum...
Tgl 02 November 2010 lalu,KB/TKIT LEBAH MADU telah melakukan KUNJED (Kunjungan Edukatif Besar) ke Mekarsari Amazing Tourism Park,Bogor. Subhanallah antusiasme dan semangat anak-anak membuat perjalanan dan kegiatan saat itu menjadi sangat menyenangkan. Pagi hari sekitar pukul 07.00 WIB,ananda-ananda kami tercinta bahkan telah bersiap-siap dan berkumpul disekolah. Hmm...kali ini ananda TK A (salwa) dan TK B (Ababil) pergi tanpa didampingi oleh ayah/bunda. Hal ini tidak lain adalah untuk melatih kemandirian mereka. Alhamdulillah..berkat doa dan keikhlasan para ayah dan Bunda, mereka bisa melakukan semua kegiatan dengan hanya didampingi oleh Ibu Guru.
Tidak begitu halnya dengan Kelompok Bermain, Ayah/Bunda/Pengasuh dapat mendampingi ananda tercinta selama kegiatan berlangsung.
Transportasi dengan menggunakan bus Maestro dari KERUB PARIWISATA membuat perjalanan terasa sangat nyaman untuk ananda-ananda kami belum lagi Games yang sengaja dipersiapkan oleh Ibu Guru untuk mereka,tak ayal membuat kami semua tidak menyadari bahwa kami telah tiba di tempat tujuan yaitu MEKARSARI :)
Adapun paket wisata yang KB/TKIT LEBAH MADU ambiladalah paket "PADDY VILLAGE" dengan beberapa kegiatan seperti Melukis caping,Menanam padi,Menangkap ikan di kolam berlumpur,Memandikan Kerbau,Menikmati Snack Tradisional (ubi rebus yang manis..) dan menikmati serta belajar tarian tradisional.
Ternyata dengan kegiatan yang cukup padat dan mungkin adalah pengalaman pertama bagi mereka untuk turun kesawah/kolam lumpur,ananda-ananda KB/TKIT LEBAH MADU terlihat sangat senang dan menikmati semuanya.
Saat seru pun dimulai...setelah melukis caping,ananda diajak untuk turun kesawah . Saat itu mereka terlihat bingung dan bahkan ada yang tidak mau untuk melakukan praktek menanam padi,tapii...itu tidak berlangsung lama. Semangat mereka melihat "air" dan bebas untuk "berkotor ria" memusnahkan semuanya...wah..wah...mereka langsung turun ke sawah tanpa berpikir lagi bahkan senyum lugu mereka sangat menghiasi panas terik siang itu.
Usai praktek menanam padi,fasilitator Mekarsari mengajak kami untuk menangkap ikan di kolam Lumpur. Subhanallah...mata mereka terlihat berbinar saat ikan-ikan dimasukkan ke kolam dan siap untuk ditangkap. Meskipun membutuhkan waktu yang agak lebih lama,tapi bisa menangkap satu ikan dan memegangnya adalah kebanggan tersendiri baik bagi ananda-ananda kami ataupun Ibu-ibu Guru :)
Ikan-ikan yang ditangkap seolah menjadi hadiah besar yang tak akan dilepaskan . Bahkan ketika kegiatan memandikan kerbau,mata mereka tak lepas dari kantong-kantong plastik yang berisi ikan-ikan.
Menjelang tengah hari,kegiatan paket dihentikan dan diisi dengan kegiatan membersihkan diri sebelum beralih ke makan siang,belajar tari tradisional dan berkeliling kebun dengan menggunakan kereta.
Alhamdulillah semua kegiatan berjalan lancar,ananda makan siang dengan lahapnya dan bersedia untuk belajar tari tradisional.
Jam 13.30 WIB semua kegiatan telah berakhir dan ananda dipersiapkan untuk kembali pulang ke BSD. Bingkisan salak dan ubi rebus bahkan ikan yang mereka tangkap,menjadi buah tangan yang sangat indah dan menarik. Singkat cerita,semoga kegiatan KUNJED BESAR ke Mekarsari banyak memberikan manfaat bagi ananda-ananda kami tercinta dan menjadikan mereka pribadi yang lebih mandiri,aktif,kreatif dan relijius. amin

Monday, July 12, 2010

5 Langkah Persiapan Masuk Sekolah

VIVAnews - Saat si kecil akan masuk taman kanak-kanak ada banyak hal untuk dipersiapkan. Mulai dari perlengkapan sekolah mereka, mengatur kebiasaan bangun pagi, hingga mempersiapkan mentalnya memasuki lingkungan baru.

Sebenarnya bukan hanya si kecil saja yang harus dipersiapkan. Sebagai orangtua, Anda juga harus siap melepas mereka dalam lingkungan baru. Jangan sampai karena tidak tega melihat si kecil kesulitan mewarnai gambar, Anda duduk dalam kelas menemani dan membantu si kecil. Hal itu tidak baik bagi perkembangan kemandirian si kecil.

Berikut lima langkah yang harus dipersiapkan sebelum si kecil masuk taman kanak-kanak. Persiapan berikut bukan hanya diperuntukan bagi si kecil, tetapi juga orangtua.

Pertama, biarkan waktu berjalan. Sebagai orang tua bisa saja muncul pemikiran bahwa waktu berjalan terlalu cepat. Seperti, baru kemarin melahirkan si kecil, dan besok harus melepasnya di sekolah TK. Rasa khawatir pasti juga akan muncul, tapi Anda harus mengatasi perasaan itu karena bisa mempengaruhi kepercayaan diri si kecil. Bagi si kecil sekolah baru bisa menimbulkan rasa penasaran, gembira atau bahkan takut. Untuk itu,cobalah meminta si kecil bercerita bagaimana perasaannya. Dengan begitu ia bisa berbagi perasaannya.

Kedua, ketahui kondisi mental dan kemampuan si kecil. Saat masuk TK anak-anak sebelumnya harus diketahui dulu kesiapannya, baik secara mental dan kemampuan. Untuk mengetahuinya, Anda bisa berbicara langsung dengan si kecil atau berkonsultasi dengan psikolog.

Ketiga, berikan pengertian. Memasuki taman kanak-kanak berarti si kecil akan belajar bersosialisasi. Dan hal itu akan melibatkan emosi mereka. Beritahukan padanya bahwa ia akan bertemu dengan anak-anak lain yang mungkin akan membuat mereka sedih atau marah. Dengan begitu mereka tidak akan terlalu kaget. Sebagai orangtua Anda harus selalu siap mendengar keluhan-keluhan si kecil di sekolah, hadapi dengan tenang dan ajaklah si kecil untuk memecahkan masalah bersama.

Keempat, berikan perhatian ekstra. Saat memasuki taman kanak-kanak si kecil akan mulai belajar kekuatan jari seperti cara memegang pensil dan menggunakannya untuk menuliskan sebuah huruf, untuk mengasah kemampuan kognitifnya. Meskipun di sekolah ia sudah diajarkan oleh gurunya, sebagai orangtua jangan heran jika malam harinya ia meminta Anda untuk mengajarkannya. Jangan cepat marah jika ia membuat kesalahan atau bahkan mematahkan pensilnya. Ia membutuhkan perhatian Anda lebih besar dari sebelumnya, karena ia masuk dalam dunia baru dan menerima pelajaran baru.

Kelima, kendalikan diri Anda. Meskipun si kecil menangis saat hari pertama sekolah, Anda harus menahan perasaan. Biarkan ia ditangani oleh gurunya. Anda boleh saja menemaninya di sekolah, tetapi jangan selalu menengok ke jendela kelasnya apalagi duduk bersamanya dalam kelas. Hal itu akan menghambat perkembangan kemandiriannya karena ia akan selalu bergantung.
• VIVAnews

Saturday, June 26, 2010

PELEPASAN DAN PENTAS SENI AKHIR TAHUN AJARAN 2009/2010



Berjalannya waktu sungguh tak terasa telah sampai dipenghujung tahun ajaran 2009/2010. Keceriaan ,semangat belajar serta kemanjaan mereka ibarat permata yang berkilau sepanjang hari disekolah.

Bahagia....,melihat mereka mempunyai rasa percaya diri yang hebat !

Bangga...,melihat kesiapan mereka memasuki tingkat pendidikan selanjutnya

Sedih.....,mengenang bahwa kami takkan dapat memeluk mereka setiap hari

Jazakillah ayah serta bunda yang telah memberikan kepercayaan kepada kami menemani ananda bermain dan belajar di KB/TKIT Lebah Madu tercinta.

Monday, April 19, 2010

MARKET DAY



Assalamu'alaikum wr.wb
Alhamdulillah akhirnya tanggal 28 maret 2010 lalu,KB/TKIT LEBAH MADU telah melaksanakan Market Day dengan tema "Menjadi Pengusaha Kecil yang Sukses" yang dilaksanakan di pelataran masjid AL HAKIM BSD.
Pagi itu,ananda-ananda kami tampaknya sudah siap menjadi penjual dan bahkan para orangtua pun siap menjadi pembeli :-). Subhanallah mereka terlihat gembira dengan pakaian/kostum sesuai dengan stan-stan yang ada dalam kegiatan tersebut. Adapun stan yang tersedia ada 4,yakni 2 stan makanan dan minuman dan 2 stan kreatifitas.
Stan makanan dan minuman menjual sosis,kentang goreng,roti bakar,milk shake,agar-agar hingga teh botol. Jangan disangka...mereka hanya bermain-main loh,buktinya mereka dapat berperan dengan sangat baik sebagai penjual. Seperti halnya penjual milkshake,ananda kami betul-betul melakukannya dari menuangkan susu dan es batu ke dalam blender hingga memasukkannya ke dalam gelas saji. wah...wah...seru bukan ??? belum lagi ananda yang bertugas menjadi kasir. Mereka belajar menghitung uang dan mengembalikannya kepada pembeli.
Lucunya dalam pembelajaran ini,mereka masih bingung mengenai konsep tawar menawar. Ada suatu cerita,salah satu ananda kami menjual kaos yang berlukiskan hasil karyanya dengan harga Rp. 25.ooo,- ,namun ketika ada pembeli yang ingin membelinya dengan harga Rp.50.000,- justru ananda kami itu tidak mau dan tetap bersiteguh dengan harga awal:-) lalu ada lagi yang menjual kalung hasil ronce di sekolah justru memberikan harga lebih tinggi ketika ada pembeli yang menawar dengan harga lebih rendah.
Subhanallah...keluguan mereka,membuat kami gembira. Terlebih lagi hasil penjualan pada MARKET DAY,alhamdulillah cukup besar sehingga hasil penjualan yang telah diambil oleh modal tersebut dapat dibagikan sama rata kepada ananda kami semua yang telah berperan sebagai penjual.

Monday, February 1, 2010

KALAU KEMAMPUAN BICARA SI PRASEKOLAH TERHAMBAT

Di usia prasekolah, kosakata yang dikuasai seorang anak harusnya sudah sangat banyak. Namun, adakalanya hambatan datang menghadang. Bagaimana mengatasinya?
Sebagian masyarakat kita percaya pada mitos yang mengatakan anak laki-laki lebih lambat menguasai kemampuan bicara dibanding anak perempuan. Padahal penelitian yang ada menunjukkan prosentase kemampuan bicara antara anak laki-laki dengan anak perempuan sama saja. Apalagi, kemampuan bicara manusia sebetulnya sudah terlihat sejak ia dilahirkan, ditandai dengan tangisan bayi begitu keluar dari rahim ibunya.
Mitos itu mungkin muncul karena keterlambatan bicara pada anak laki-laki lebih cepat terdeteksi ketimbang pada anak perempuan. Bukankah, perilaku anak laki-laki yang lebih aktif dan agresif mampu menarik perhatian orang di sekitarnya, sehingga kalau ada sesuatu yang terjadi pada mereka akan lekas ketahuan. Berbeda halnya dengan bayi perempuan yang kebanyakan lebih kalem walaupun tidak mesti begitu.
Terlepas dari persoalan yang diangkat mitos tersebut, menurut Roslina Verauli, M.Psi., anak usia prasekolah umumnya sudah dapat bicara dengan lancar. Kosakata yang dikuasainya sudah lebih dari 1.000 kata. Anak usia ini pun sudah mengenali sopan santun dalam bicara. "Ia sudah bisa membedakan bagaimana cara berbicara dengan teman atau bagaimana menjawab pertanyaan orang tua," tambah dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara, yang akrab disapa Vera ini.
Kendati pada beberapa anak masih ada pelafalan kata yang belum jelas benar, umumnya baik pemilihan kata maupun penggunaan tata bahasa sudah mendekati kemampuan orang dewasa. Jadi, setelah tahapan ini anak tak banyak mengalami perkembangan kemampuan bicara sampai ia kelak dewasa.

HARUS WASPADA
Walaupun kemampuan bicara anak tidak dapat digeneralisir berdasarkan usia, orang tua hendaknya mulai waspada bila anaknya menunjukkan keterlambatan perkembangan kemampuan bicara. "Harusnya usia empat tahun ke atas, anak sudah cerewet dan banyak omong. Bila anak baru bisa mengucapkan sepatah dua patah kata dengan tata bahasa yang belum benar, orang tua harusnya waspada," ujar Vera mengingatkan.
Menurut Vera, pada dasarnya gangguan kemampuan bicara anak dibedakan menjadi dua, yakni si anak memang mengalami gangguan bicara atau sekadar keterlambatan biasa. Deteksi dini bisa dilakukan sendiri oleh orang tua di rumah dengan memperhatikan beberapa keadaan berikut:

* Organ pendengaran
Pancing anak dengan pertanyaan terbuka, misalnya, "Ini gambar apa, Sayang?" Pertanyaan terbuka memungkinkan orang tua mengeksplorasi dan menilai kemampuan bicara sekaligus organ pendengaran anak.
Bila anak tidak menunjukkan reaksi sama sekali, maka orang tua harus waspada dengan segera memeriksakannya ke dokter THT.
Anak dengan gangguan pendengaran tidak akan memberi respons terhadap bunyi-bunyian di sekitarnya, seperti suara gemerincing, suara musik dan sebagainya.

* Otot bicara
Bila lafal bicara anak tak kunjung sempurna, orang tua sebaiknya waspada dengan membawa anak ke dokter untuk diperiksa apakah otot bicaranya mengalami gangguan. Bisa jadi otaknya sudah memerintahkan untuk menjawab dengan benar, tapi yang keluar dari mulut tetap tidak jelas karena adanya gangguan neurologis atau persarafan.

* Kemampuan kognitif
Patut dicatat bahwa perkembangan kemampuan bicara anak erat hubungannya dengan perkembangan kognitif. Anak yang sudah bisa bicara berarti sudah mampu merepresentasikan objek yang dilihat dalam bentuk image. Bila ada gangguan kognitif, maka image tersebut tidak akan terbentuk. Bisa jadi anak memang mempunyai keterbatasan pada intelegensinya dan ini bisa dideteksi sendiri oleh orang tua dengan melihat kemampuan motorik anak. Misalnya, anak yang mengalami gangguan bicara biasanya juga kurang mampu melakukan aktivitas lain.
Jika ia kurang terampil memakai sepatu, contohnya, sudah hampir bisa dipastikan anak bermasalah dengan kemampuan kognitifnya. Pada gilirannya akan ada hubungan timbal balik antara kemampuan bicara dengan perkembangan kognitif anak.

MACAM GANGGUAN DAN CARA PENANGANAN
Disamping gangguan yang disebabkan kerusakan organ tubuh, ada juga gangguan yang disebabkan faktor psikologis. Beberapa gangguan bicara banyak dijumpai pada anak usia prasekolah, antara lain:

* Cadel
Cadel sendiri dibedakan menjadi 2, yaitu cadel karena faktor psikologis dan cadel karena faktor neurologis. Cadel yang disebabkan faktor neurologis berarti disebabkan adanya gangguan di pusat bicara. Untuk mengatasinya, anak dengan gangguan ini harus segera dibawa ke neurolog. Pada prinsipnya, gangguan ini masih bisa ditangani. Namun bila kerusakannya termasuk parah, bukan tidak mungkin akan terbawa sampai dewasa.
Cadel yang kedua adalah cadel yang disebabkan faktor psikologis. Karena kehadiran adik, contohnya, maka untuk menarik perhatian orang tua, anak akan menunjukkan kemunduran kemampuan bicara dengan menirukan gaya bicara adik bayinya. Untuk mengatasinya, orang tua harus menunjukkan bahwa perhatian padanya tidak akan berkurang karena kehadiran adik.
Selain itu, orang tua juga harus terus mengajak anak bicara dengan bahasa yang benar, jangan malah menirukan pelafalan yang tidak tepat. Pada kasus yang parah, sebaiknya segera bawa anak ke ahlinya agar bisa tergali apa masalah yang melatarbelakanginya.

* Gagap
Bila anak bicara dengan cara "aaa...aaakkuu", "eee..eebaju" atau mungkin, "mak...mak...makkann", anak bisa dikategorikan sebagai anak gagap. Gagap juga bisa disebabkan faktor neurologis. Untuk penanganannya anak harus segera dibawa ke dokter agar mendapat pengobatan lebih intensif.
Gagap yang disebabkan faktor psikologis biasanya dialami anak-anak yang mengalami tekanan. Entah orang tuanya terlalu otoriter, keras, bahkan kasar. Gagap psikologis ini akan bertambah parah bila anak mendapat hukuman dari lingkungan. Semisal ditertawakan temannya, dikagetin atau tiap kali gagap orang tua langsung melotot sambil membentak, "Ayo, bicara yang benar!" Anak akan makin tegang dan gagapnya makin menjadi-jadi.
Ketegangan emosional ini berhubungan langsung dengan ketegangan otot bicaranya. Makin tegang otot-otot bicaranya, anak akan makin kesulitan.
Cara menangani anak dengan gangguan ini adalah dengan mengajaknya tenang, ambil napas dan konsentrasi pada apa yang akan diucapkannya. Kalau perlu elus-elus punggungnya untuk memberi rasa tenang. Sedangkan pada kasus anak gagap yang parah, sebaiknya libatkan ahli.

* Gangguan pervasif
Adalah gangguan bicara dimana ucapan seorang anak berlangsung melompat-lompat dan tidak konsisten. Bisa jadi anak seperti ini sebetulnya mengalami gangguan ADD (attention defisit disorder). Anak yang mengalami keterbatasan atensi ini mengalami masalah di pusat sarafnya. Gangguan ini biasanya tidak berdiri tunggal, tapi dibarengi ciri-ciri lain, semisal pekerjaannya tidak pernah tuntas, sulit/tidak bisa konsentrasi dan sebagainya. Yang juga termasuk dalam gangguan ini adalah para penderita autis. Namun untuk memastikannya, tak ada cara lain kecuali mendatangi ahli.

* Tunawicara
Gangguan bicara yang paling berat adalah tunawicara. Usia ini merupakan saat yang paling tepat untuk mengetahui apakah anak mempunyai kelainan tersebut atau tidak karena pada usia ini kemampuan bicara anak umumnya sudah bagus. Jika ia hanya mengeluarkan bunyi-bunyi khas tanpa makna, semisal "uuh..uuh", "eeh...ehh", untuk menjawab/menunjuk semua benda, hal ini bisa dijadikan indikator kalau dia belum bisa bicara sama sekali.
Bila sudah ada gejala seperti itu, sebaiknya anak segera dibawa ke dokter. Untuk langkah pertama bisa dibawa ke dokter anak sebelum mendapatkan penanganan yang lebih intens.

*MERANGSANG ANAK BICARA*
Menurut Vera, bila kondisi anak dengan gangguan bicara dibiarkan saja, ia akan mengalami kesulitan bersosialisasi. Misalnya di kelompok bermain atau TK, anak dituntut untuk menyanyi, menjawab pertanyaan dan hal-hal lain yang membutuhkan kemampuan bicara.
Kesulitan akan semakin terasa bila anak sudah memasuki usia SD karena gangguan bicara juga akan menyulitkan anak untuk belajar menulis. "Bukankah saat menulis, seseorang membutuhkan inner speech, yakni kemampuan bicara yang ada di otak? Nah, kalau kemampuan itu tidak dikuasainya, tentu akan merembet ke hal-hal lain," papar Vera.

Untuk menstimulus kemampuan bicara anak, ada beberapa hal yang bisa dilakukan orang tua, di antaranya:

* Bicara pada anak
Bicara pada anak tidak sama artinya dengan memberi perintah ataupun melarang ini-itu. Sayangnya, orang tua sering sudah merasa cukup bila bicara dalam bentuk perintah, padahal isi pembicaraannya hanya, "Jangan ke situ, nanti jatuh!" atau "Ayo, pakai sepatunya." Perintah-perintah satu arah seperti itu tentu saja tidak memberi kesempatan kepada anak untuk bicara.
Begitu juga orang tua yang merasa selalu mendampingi anaknya. Tak jarang mereka merasa sudah cukup mengajak anaknya bicara, padahal selama menemani si anak beraktivitas, bukan tidak mungkin si orang tua justru asyik melakukan aktivitasnya sendiri. Misalnya dengan membiarkan anaknya bermain hanya agar ia bisa tenggelam di balik majalah yang tengah dibacanya.

* Melontarkan pertanyaan terbuka
Usahakan untuk selalu memberikan pertanyaan terbuka alias pertanyaan yang tidak cukup dijawab hanya dengan "ya" atau "tidak". Misalnya, bukan "Kakak sudah makan belum?" tetapi "Kakak tadi makan apa?" Dengan mengajukan pertanyaan ini, mau tidak mau anak tertantang untuk memberi jawaban yang lebih panjang daripada sekadar "sudah" atau "belum" dan "ya" atau "tidak".

* Dongeng
Mendongeng juga bermanfaat menambah perbendaharaan kata anak. Melalui dongeng anak bisa diperkenalkan dengan kosakata baru, seperti raksasa, gunung, bidadari dan kata-kata lain yang tidak biasa digunakan dalam percakapan sehari-hari. Vera menganjurkan agar upaya tersebut tidak berhenti sampai di situ. Ketika mendongeng, pancing anak untuk menceritakan kembali isi dongeng yang telah didengarnya. Misalnya dengan menanyakan, "Menurut Adek, kenapa ya kapalnya bisa tenggelam?" Pertanyaan kreatif seperti itu, selain bisa mengembangkan kemampuan bicara anak, juga mampu merangsang kemampuan kognitifnya.

* Betulkan ucapan anak
Seringkali bahasa "anak-anak" muncul kembali di sela-sela kalimatnya yang sudah mulai runut. Untuk mengatasinya, jangan menyalahkan anak dengan mengatakan. Semisal, "Adek apa-apaan, sih, ngomongnya kayak anak kecil!" melainkan beri contoh yang tepat dengan mengulangi kalimatnya. Dengan begitu anak mengerti mana yang salah dan bagaimana ucapan yang seharusnya.
Temperamen anak yang beragam bisa membawa dampak yang berbeda pula. Ada anak yang memang cerewet, sehingga orang dewasa di sekitarnya merasa senang karena anak terlihat lebih "pintar", dan ada juga anak yang memang pendiam. Menyikapinya, orang tua harus bisa tampil bijak. Selama si anak pendiam tidak menunjukkan kesulitan dalam bicara dan tidak ada gangguan yang menyertainya, tak perlu memaksa anak untuk terus bicara.

*EINSTEIN JUGA TERLAMBAT BICARA*
Ada cerita menarik tentang kemampuan bicara penemu teori relativitas Albert Einstein. Sampai usia hampir 4 tahun Einstein belum menunjukkan perkembangan kemampuan bicara yang berarti. Sampai-sampai gurunya putus asa dan mengatakan, "Anak bodoh ini tidak akan jadi apa-apa kelak."
Akan tetapi ternyata ramalan si guru keliru. Kelak di kemudian hari nama Einstein justru begitu dikenal sebagai si jenius peraih Nobel. Intinya, jangan dulu berputus asa bila anak mengalami keterlambatan bicara. Selama memang sudah dipastikan tidak ada gangguan/kelainan yang menyertainya, bisa jadi ini hanya masalah waktu. Pada kasus Einstein ternyata perkembangan kemampuan bicaranya memang lebih lambat dibanding perkembangan kognitifnya.

*PERKEMBANGAN KEMAMPUAN BICARA*

Usia Perkembangan Kemampuan

lahir 3 bulan Menangis
3-6 bulan Mengeluarkan bunyi tanpa arti sama sekali (cooing)
6-8 bulan Mengucapkan "mamamam", "papapap" dan sebagainya (bubbling)
12 bulan Anak mulai bisa mengucapkan kata pertamanya, seperti "mama"
18 bulan Sudah ada peningkatan kemampuan bicara. Anak sudah bisa
mengucapkan satu kata meskipun tanpa disertai tata bahasa.
Misalnya: "makan", "minum", dan sebagainya.
2 tahun Anak sudah bisa merangkai beberapa kata menjadi kalimat
sederhana. Misalnya, "Aku makan."
3-4 tahun Anak sudah menguasai lebih dari 1.000 kosa kata. Kemampuan
tata bahasanya pun sudah meningkat pesat. Misalnya, anak
sudah bisa mengatakan, "Aku mau makan pisang manis."
4-6 tahun Anak mulai mengenali sopan santun dalam bicara. Misalnya,
ketika menjawab pertanyaan guru atau orang dewasa, anak
sudah bisa memilih kata yang lebih santun.

Marfuah Panji Astuti. Ilustrator: Pugoeh

[milis-nakita] terlambat bicara

Friday, January 29, 2010

I AM NOT PANIC.... (simulasi gempa sederhana)






Assalamu'alaikum.....
Alhamdulillah hari Kamis,28 Januari 2010, KB/TKIT Lebah Madu mengadakan SIMULASI GEMPA SEDERHANA untuk ananda-ananda kami tercinta. Acara ini telah dipersiapkan kurang lebih hampir sebulan lamanya. Hal ini dimulai dari pengenalan gempa melalui program reading story dan lagu yang kemudian dikembangkan oleh masing-masing penanggungjawab sentra dalam berbagai bentuk kegiatan.
Adapun contoh kegiatan di sentra seni dan kreatifitas adalah mengajak ananda mengenal gejala gempa dan membuat alarm gempa sederhana,begitu pula dengan sentra ibadah yang mengajarkan ananda bacaan doa jika terjadi bencana alam selain menyaksikan film animasi anak berjudul "HOPE".
Subhanallah...meski pada awalnya beberapa dari mereka merasa takut,namun dengan pengenalan dan penjelasan yang bertahap justru membuat mereka sigap dan tidak panik ketika simulasi gempa diadakan.
Simulasi gempa dimulai pada pukul 09.30 WIB setelah waktu "snack time". Tiupan peluit menandakan awal terjadinya gempa. Alhamdulillah baik kelompok Bermain maupun TK sigap dalam melakukan perlindungan diri. Ada yang langsung berlindung dibawah meja,ada yang keluar ke lapangan terbuka dan berlindung di pojok ruangan dengan asumsi konstruksi lebih kuat dari bagian lainnya dan jauh dari kaca serta barang-barang yang membahayakan. Tentunya mereka melakukan itu seraya melindungi bagian kepala.Sebenarnya,kami pun agak terkejut dengan kesigapan mereka.
Selidik punya selidik ternyata,pengenalan gempa dan perlindungan diri dari gempa mereka praktekkan di rumah. Lucunya ada yang bertanya kepada orangtuanya,"apakah mejanya kokoh?",seraya menunjuk semua meja dirumahnya. Coba dibayangkan...kalau dirumah ada lebih dari 3 meja ???? :-)
But It's amazing.....
Ananda terlihat senang.....belum lagi setelah simulasi, ananda dikumpulkan dan diberikan beberapa permainan menarik. Bahkan,kami melakukan review mengenai gempa,tak dinyana mereka menjawabnya dengan penuh antusias. Oh ya dalam kegiatan tersebut ada juga ibu guru yang bermain peran seolah-olah terluka karena reruntuhan gempa.Subhanallah,empati mereka terasah saat itu.
Tak lama kemudian,Kesenangan akhirnya berubah menjadi kegembiraan tatkala di penghujung kegiatan simulasi,Ibu Eri selaku pengurus yayasan merangkap wali murid juga memberikan agar-agar buah segar.Hmmm...yummy.
Alhamdulillah....

"KALAU ADA GEMPA,LINDUNGI KEPALA
KALAU ADA GEMPA,MASUK KE BAWAH MEJA
KALAU ADA GEMPA,JAUHI KACA
KALAU ADA GEMPA,LARI KE TEMPAT (LAPANGAN) TERBUKA"